BANYUDONO SID- Jabatan sebagai Kepala Desa (Lurah) tidak menjadi halangan bagi  Nurhadi untuk tetap berternak kambing. Diturunkan dari sang ayah, sejak kecil sudah dilatih memelihara kambing. Kurang lebih sudah 10 tahun  Nurhadi menjalankan bisnis ternak ini. Dimulai dari 3 kambing yang dikembangkan hingga saat ini sudah menjadi 125 ekor dari dua jenis kambing yaitu kambing jawa dan kambing gibas atau biasa disebud dengan wedus gembel.

Dibantu oleh tenaga kerjanya, kambing-kambing miliki Nurhadi dipelihara dengan sistem kombor, yaitu memberi makan bukan dengan rumput saja namun juga diselingi dengan dedak padi yang dicampur dengan air. Karena jumlah kambing yang banyak sehingga meminimalisier kinerja pegawai.

Nurhadi mengaku tidak memiliki kesulitan dalam pemasaran, bahkan banyak pelanggan yang mengambil sendiri di peternakan. Dalam waktu lima sampai enam bulan sudah dapat diambil keuntungan dua kali lipat, kotorannya pun dapat dijual dengan harga lima belas ribu per karung, yang selama ini menjadi kendala hanyalah saat musim kemarau pakan rumput susah dicari, namun hal ini tidak terlalu dihiraukan karena masih ada jalan lain yaitu dengan menambah jumlah kombor. Selain itu setelah Nurhadi menjadi Kepala desa Banyudono terkadang jika ada tenaga kerjanya yang libur beliau lah yang harus terjun langsung mengurus peternakannya sepulang dari kantor. Untuk kesehatan kambing sudah ada kerjasama dengan dinas peternakan

Sebagai kepala desa yang kebetulan terjun dalam bidang peternakan Nurhadi memiliki program memberi bantuan kambing kepada masyarakat agar dikembangkan oleh warganya, walaupun pada kenyataannya masyarakat Desa Banyudono masih jarang yang berani mengambil keputusan untuk membuat peternakan besar.